Staf Redaksi Warta Wantimpres saat mewawancarai Bapak K.H. A. Hasyim Muzadi, Anggota Wantimpres di ruang kerja Beliau, Jakarta (23/06/16)

Peran Pesantren dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Pesantren adalah lembaga da’wah dan lembaga sosial kemasyarakatan, yang memberikan warna dan corak khas dalam wajah masyarakat Indonesia khususnya di daerah pedesaan. Lembaga ini tumbuh dan berkembang bersama warga masyarakatnya sejak berabad-abad. Oleh karena itu, tidak hanya secara kultural lembaga ini bisa diterima, tetapi bahkan telah ikut serta membentuk dan memberikan corak serta nilai kehidupan kepada masyarakatnya yang senantiasa tumbuh dan berkembang. Figur Kyai, santri, dan seluruh perangkat fisik yang menandai sebuah pesantren, senantiasa dike-lilingi oleh sebuah kultur yang bersifat keagamaan. Kultur mana mengatur perilaku seseorang, pola hubungan antar warga masyarakat dan bahkan pola hubungan antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Berkaitan dengan latar belakang tersebut, Staf Redaksi Warta Wantimpres berkesempatan untuk mewawancarai Bapak K.H. A. Hasyim Muzadi, Anggota Wantimpres sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, pada tanggal 23 Juni 2016, di ruang kerja Beliau,  berikut petikan wawancaranya:

Dalam suatu kesempatan diskusi terbatas yang bertema Nawa Cita menuju Kesejahteraan dan Kesalehan Sosial yang pernah Bapak selenggarakan, Bapak pernah menyatakan bahwa “Jika Revolusi Mental ingin berhasil, maka pesantren harus dibenahi, dan Bapak juga mengatakan bahwa pesantren menjamin pendidikan karakterisasi” bagaimana Bapak menjabarkan hal ini?

Ada perbedaan antara pesantren dan sekolah. Sekolah hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, sementara pesantren mengajarkan kehidupan. Ilmu adalah bagian dari kehidupan, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, komponen pesantren harus lebih lengkap ada pengajaran, pendidikan, dan pengasuhan. Pengasuhan membentuk kepribadian yang diajarkan oleh Kyai. Kyai berfungsi sebagai pengasuh sekaligus sebagai contoh kehidupan, bagaimana perjuangannya. Kesederhanaan hidupnya, cara ibadahnya. Sosok Kyai tidak dapat digantikan. Pesantren selain mengajarkan kelimuan juga mengajarkan kepribadian. Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, akhirnya sekolah semakin bervariasi, maka sekolah di Pondok Pesantren pun bervariatif, misalnya memiliki sekolah kejuruan dan Balai Latihan Kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan jaman. Intinya semua profesionalisme harus dibingkai dengan karakter akhlakul karimah.

Jika Indonesia ingin melakukan revolusi mental, maka harus ditentukan basis dan arahnya. Mental kita harus diperbaiki dalam banyak hal. Mental dalam arti hubungan sosial, mental profesionalisme (jangan sampai profesionalisme membentur mental keilmuan) ilmu tidak boleh disalahgunakan. Mental penyelenggaraan negara adalah hal yang paling berat untuk dibenahi, karena disitulah letak kekuasaan, kekayaan dan kehormatan. Sebaiknya Revolusi Mental menentukan basis. Baik komponen maupun eksponen, secara komprehensif membentuk sebuah proses Revolusi Mental. Jika Revolusi Mental tidak memiliki basis, maka hanya akan menjadi wacana. Misalnya pesantren dijadikan Basis Revolusi Mental di bidang pendidikan. Sementara basis Revolusi Mental di bidang profesionalisme adalah bagaimana bertanggung jawab kepada negara. Penyelenggara negara harus ada karakter kebangsaan.

Sebagai lembaga pendidikan dan da’wah pesantren dan seperangkat madrasahnya yang bergerak dibidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan, pada umumnya Pesantren dikelola secara swadaya/bersama antara pendiri dan ahli warisnya be­serta masyarakat sekitarnya. Lembaga pendidikan yang dikelola secara demikian pada umumnya menghadapi beberapa permasalahan di dalam proses perkembangan­nya. Seringkali Pesantren dicap belum mandiri, Menurut pendapat Bapak, bagaimana melepaskan stigma tersebut dari pesantren?

Pertama, pada prinsipnya pesantren mandiri, jika belum, hanya karena belum bisa. Kemandirian adalah termasuk prinsip pesantren. Mandiri santrinya dan mandiri pesantrennya. Mandiri pesantren agar secara utuh bisa mewakili ide-ide pesantren dan tidak terkooptasi oleh berbagai macam pengaruh.

Kedua, santri harus mandiri agar tidak terpengaruh orang lain terus. Santri agar proaktif, kreatif terhadap perkembangan yang terjadi. Jika ada pesantren yang belum mandiri, itu hanya masalah keuangan saja.

Dunia Pesantren terus berkembang dari waktu ke waktu. Pada era reformasi, pondok pesantren mulai berbenah diri dan mendapatkan tempat di kalangan pergaulan internasional. Pendidikan pondok pesantren diakui oleh pemerintah menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional. Pesantren diakui pemerintah sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai kesetaraan dalam hak dan kewajibannya dengan lembaga pendidikan formal dan lainnya. Melihat hal ini, menurut Bapak bagaimana langkah yang harus dilakukan pemerintah untuk memaksimalkan penguatan pesantren itu sendiri?

Penguatan pesantren timbal balik antara penguatan pengasuhnya, pengajar, santri, dan manajemen keuangannya, itu yang harus ditata lagi. Sekarang sudah tidak sama dengan jaman dahulu (Kyai memiliki sawah yang luas). Sekarang tidak ada lahan, maka bentuk lain usaha dari pesantren harus digalakkan guna menopang kemandirian pesantren itu sendiri. Jika tidak, maka kemandirian pesantren akan terusik. Pesantren akan mencipitakan pemimpin, dengan karakter yang mandiri dan keilmuan yang diajarkan, bukan hanya pegawai.

Dalam beberapa kesempatan Bapak juga mengatakan bahwa Indonesia mempunyai trisula dengan mata pedang: narkoba, terorisme dan korupsi. Bagaimana peran pesantren sebagai basis pendidikan rakyat untuk menghalau tiga hal di atas?

Sebenarnya yang belum ditentukan adalah pola hubungan antara kebijakan negara, pemerintah dengan partisipasi masyarakat. Misalnya narkoba, yang mengurus hanya polisi, sementara masyarakat tidak punya imunitas karena tidak ada yang membina. Oleh karena itu diperlukan pola hubungan antara pejabat, petugas dengan penyelenggara negara dengan partisipasi masyarakat. Di terorisme dan korupsi juga demikian. Ibu memiliki peran penting dalam keluarga. Pola ini sekarang tidak ada. Saat ini seperti penyelenggara negara berjalan sendiri, rakyatnya berjalan sendiri. Hal itu tidak baik untuk keselamatan negara.

Terakhir, bagaimana harapan Bapak untuk pesantren agar dapat memberikan kontribusi maksimal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?

Jika kualitas pesantren baik, maka kontribusinya akan semakin baik pula. Untuk menjaga kualitasnya, disamping memberikan pendidikan karakter, pesantren juga harus bisa memberikan pendidikan profesionalismenya. Hal ini disebabkan oleh santri yang keluar dari pesantren belum tentu lantas mendapatkan pekerjaan, oleh karena itu untuk kemandirian, maka santri harus bisa kerja sendiri. Kuncinya kualitas pesantren pada masalah pembentukan karakter, profesionalitas dan kompetensi.  (Ana)